PKS NEWS UPDATE:
« »

Tuesday, October 27, 2015

Sepotong Epos dari Musda saat Terik Jakarta



Kemarin teriknya menyengat pada tiap sudut Jakarta. Semakin nampak Jakarta kian gersang. Terlebih hiruk-pikuk Jakarta yang menjadi poros peta politik nasional, menambah panas kian menampar.
“Adakah tersisa epos tauladan yang membuat hati teduh?” Gumamku, saat menggilas aspal Jakarta bersama seorang sahabat, kemarin.
Sepanjang perjalanan menuju rumah. Otak ini terus berputar. Di tengah terik ini pasti ada secarik hikmah yang bisa kupetik. Tapiiii….apa ya? Ahh…sudahlah nanti saja, kuturuti kata hati ini.
Setibanya di rumah. Sejenak melepas rindu dengan bintang-bintangku. Cipika-cipiki menjadi ritual yang menghangatkan, meski saya baru beberapa jam saja berpisah dari anak-anak.
Partai Keadilan Sejahtera di tiga titik mengadakan Musyawarah Daerah (Musda) Jakarta Barat, Utara dan Pusat
(26/10)
Siang kemarin tak ada petir yang menggelegar. Namun pesan singkat dan padat yang disampaikan Syakir Purnomo, Ketua DPW PKS Jakarta, bahwa;
“Mengingatkan para kader dan simpatisan untuk dapat menjalankan Visi PKS di tahun 2020.
Yaitu menjadi partai dakwah yang kokoh dalam berkhidmat untuk ummat, bangsa dan negara.“
“PKS adalah partai dakwah yang menjadikan panglima segala kegiatan dan perjuangan kita,” tambahnya.
Membacanya, cukup membuat hati ini bergetar. Walau tak seruangan dengan beliau.
Di tambah lagi warning yang disampaikan dalam Pidato LPJ Ketua DPD Jakpus Ir. M. Agus Setiawan (Ketua DPD PKS Jakpus 2010-2015)
“Partai bukan tempat mencari rejeki, apalagi menjadi selebriti, partai adalah tempat orang-orang yang ingin memberi kontribusi.”
Rangkaian puzzle kebaikan ternyata tak terhenti pada lisan saja. Genta kepedulian di arena Musda juga mengalir untuk saudara-saudara kita yang terkena dampak asap yang kian parah.
Tercatat 10 juta dari kas DPD PKS Jakarta Pusat di tambah lima juta donasi tambahan di galang saat Musda masih berlangsung.
Genta PKS adalah bunyi cinta dan kepedulian. Bunyinya tak ingin membuat gaduh. Bunyinya adalah suara hati yang mengajak kita semua. Untuk berempati dan mau berkontribusi bagi saudara-saudara kita yang terkena dampak asap.
Hadir dalam setiap denyut duka rakyat. Hadir dan hapus setiap luka rakyat. Tanda jargon berkhidmat untuk rakyat menemui ujian di tingkat realitas. Mampukah PKS setiap saat berada dalam denyut nadi rakyat untuk hadirkan solusi?
Apa yang kami lakukan, jelas belum seberapa dibanding penderitaan saudara-saudara kami di daerah bencana asap. Mohon maaf, namun kami terus berusaha, #GentaPKS, ujar Presiden PKS di laman facebooknya.
Apa yang dilakukan para pimpinan PKS dan pada saat Musda kemarin. Membuat saya teringat akan pesan Pak Hoegeng.
“Pemerintahan yang bersih harus dimulai dari atas. Seperti halnya orang mandi, guyuran air untuk membersihkan diri selalu dimulai dari kepala.”
Bila dianalogikan untuk PKS. Hal ini sedang kita saksikan bersama dan terjadi, semoga tetap istiqomah, selamanya.
Apa yang dilakukan oleh PKS, pemimpin dan kadernya. Sebenarnya adalah sebuah kompetisi ma’ruf.
Seperti yang dikatakan oleh Steve Young.
“Prinsipnya adalah berkompetisi melawan diri Anda sendiri. Ini mengenai pertumbuhan diri sendiri, untuk menjadi versi diri Anda yang lebih baik daripada kemarin.”
Sepotong epos dari Musda saat terik Jakarta. Bekerjasama seperti merangkai puzzle. Kita disatukan dengan berbagai potongan karakter. Berbeda untuk bersatu. Bukan bersatu untuk berbeda.
Saya berharap, kita tak hanya menikmati sepotong epos dari Musda saat terik Jakarta saja?
Namun bisa menjadi bagian berkontrbusi berkhidmat untuk rakyat.
Sekarang dan selamanya.
Aamiin….
(Catatan akhir pekan seorang kader di Timur Jakarta, Kramat Jati)

0 comments:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons | Re-Design by PKS Piyungan